Masjid Jami Al Azhar

Masjid Jami Al Azhar

Masjid Al-Azhar — Lebih dari Seribu Tahun Menjadi Pusat Ilmu Islam Di jantung Kota Kairo, di tengah kawasan bersejarah yang dipenuhi pasar, bangunan tua, dan peninggalan peradaban Islam, berdiri Masjid Al-Azhar. Selama lebih dari seribu tahun, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam paling berpengaruh di dunia. Sejarah Al-Azhar tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya Kairo dan Dinasti Fatimiyah di Mesir. Dari sebuah masjid yang dibangun pada akhir abad ke-10, Al-Azhar kemudian berkembang menjadi lembaga keilmuan yang didatangi pelajar dari berbagai penjuru dunia. Awal Berdirinya Al-Azhar Sejarah Al-Azhar bermula pada masa Dinasti Fatimiyah. Setelah pasukan Fatimiyah yang dipimpin oleh Jawhar al-Siqilli menguasai Mesir pada 969 M, mereka mendirikan sebuah kota baru yang kemudian dikenal sebagai Al-Qahirah atau Kairo. Tidak lama setelah pembangunan kota tersebut dimulai, Khalifah Al-Mu’izz li-Din Allah memerintahkan panglimanya, Jawhar al-Siqilli, untuk membangun sebuah masjid besar di kota baru tersebut. Pembangunan Al-Azhar dimulai pada 359 H/970 M dan selesai pada 361 H/972 M. Al-Azhar kemudian menjadi masjid resmi bagi ibu kota baru Dinasti Fatimiyah. (Azhar) Shalat Jumat pertama di Masjid Al-Azhar dilaksanakan pada Ramadan 361 H/972 M. Karena itulah Al-Azhar memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah perkembangan Kairo sebagai pusat politik, keagamaan, dan intelektual dunia Islam. (Azhar) Mengapa Disebut Al-Azhar? Para sejarawan memiliki beberapa pendapat mengenai asal-usul nama “Al-Azhar”. Pendapat yang paling banyak disebut menghubungkan nama tersebut dengan Fatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW. Dinasti Fatimiyah sendiri mengaitkan legitimasi mereka dengan keturunan Ahlul Bait, sehingga penggunaan nama Al-Azhar dipandang sebagai bentuk penghormatan kepada Fatimah az-Zahra. (Azhar) Nama Al-Azhar juga memiliki makna yang berkaitan dengan sesuatu yang bercahaya atau bersinar, sehingga nama tersebut kemudian menjadi sangat sesuai dengan peran Al-Azhar sebagai pusat ilmu dan dakwah. Al-Azhar pada Masa Dinasti Fatimiyah Pada awal berdirinya, Al-Azhar bukan hanya berfungsi sebagai tempat shalat. Masjid ini juga menjadi bagian dari misi keagamaan Dinasti Fatimiyah yang pada saat itu membawa ajaran Ismailiyah Syiah. Dengan demikian, Al-Azhar pada masa awalnya memiliki fungsi keagamaan sekaligus politik dan intelektual bagi pemerintahan Fatimiyah. (Azhar) Namun, perkembangan Al-Azhar sebagai pusat pendidikan berlangsung secara bertahap. Pada sekitar 365 H/975 M, salah satu ulama penting pada masa itu, Abu al-Hasan Ali ibn al-Nu’man, menyampaikan salah satu halaqah pengajaran awal di Al-Azhar. Sistem pembelajaran berbentuk halaqah kemudian menjadi salah satu ciri khas tradisi pendidikan Al-Azhar. (Azhar) Dalam sistem tersebut, seorang guru duduk dan menyampaikan pelajaran, sementara para murid duduk mengelilinginya dalam sebuah lingkaran. Tradisi inilah yang selama berabad-abad menjadi salah satu metode utama pendidikan Islam di Al-Azhar. Dari Masjid Menjadi Pusat Pendidikan Perkembangan pendidikan Al-Azhar semakin kuat pada masa Khalifah Al-Aziz Billah dan wazirnya, Ya’qub ibn Killis. Ibnu Killis memiliki peran penting dalam mengembangkan fungsi pendidikan Al-Azhar. Pada akhir abad ke-10, kegiatan pengajaran semakin terorganisasi dan para ulama mulai mendapatkan dukungan dari negara. (Azhar) Sejak saat itu, Al-Azhar tidak lagi sekadar menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk beribadah. Ia mulai berkembang menjadi tempat bertemunya ulama, pelajar, ahli fikih, ahli bahasa, dan para pencari ilmu. Tradisi keilmuan tersebut terus berkembang selama berabad-abad. Masa Dinasti Ayyubiyah Ketika Salahuddin al-Ayyubi berhasil mengambil alih Mesir dan mengakhiri kekuasaan Fatimiyah pada abad ke-12, arah keagamaan negara berubah. Salahuddin yang berhaluan Sunni menghentikan fungsi Al-Azhar sebagai pusat dakwah Ismailiyah. Untuk beberapa waktu, kegiatan keagamaan dan pendidikan Al-Azhar mengalami kemunduran dibandingkan masa sebelumnya. (Cairo Governorate) Meskipun demikian, keberadaan Al-Azhar tidak berakhir. Justru setelah melewati masa tersebut, Al-Azhar kemudian mengalami kebangkitan yang sangat besar pada masa berikutnya. Masa Mamluk: Kebangkitan Besar Al-Azhar Masa Mamluk menjadi salah satu periode terpenting dalam sejarah Al-Azhar. Para sultan dan penguasa Mamluk memberikan perhatian besar terhadap masjid, ulama, dan para pelajar. Mereka melakukan berbagai renovasi dan pembangunan tambahan sehingga kompleks Al-Azhar berkembang jauh lebih besar dibandingkan bangunan awalnya. (Azhar) Pada periode ini, berbagai bangunan pendidikan yang dikenal sebagai ruwaq dan madrasah mulai berkembang di sekitar Al-Azhar. Beberapa bangunan Mamluk yang masih menjadi bagian penting dari kompleks Al-Azhar antara lain Madrasah al-Taybarsiyya, al-Aqbughawiyya, dan al-Jawhariyya. Beberapa menara juga dibangun atau ditambahkan pada masa Mamluk, termasuk menara terkenal yang dibangun pada masa Sultan al-Ghuri. (Mota) Pada masa inilah reputasi Al-Azhar sebagai pusat ilmu Islam semakin kuat. Para pelajar datang dari berbagai wilayah untuk mempelajari ilmu agama, bahasa Arab, fikih, hadis, tafsir, dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Al-Azhar dan Tradisi Halaqah Salah satu hal yang membuat Al-Azhar begitu istimewa adalah tradisi halaqah. Selama berabad-abad, para pelajar duduk mengelilingi seorang guru di dalam masjid. Mereka mempelajari kitab, mendengarkan penjelasan guru, berdiskusi, dan menghafal berbagai disiplin ilmu. Model pendidikan seperti ini membuat masjid tidak hanya menjadi tempat untuk mendengarkan khutbah atau melaksanakan shalat, tetapi juga menjadi ruang kehidupan intelektual. Dari sinilah lahir sebuah tradisi keilmuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Al-Azhar pada Masa Utsmani Ketika Mesir berada di bawah kekuasaan Kesultanan Utsmani pada abad ke-16, Al-Azhar tetap mempertahankan kedudukannya sebagai salah satu pusat ilmu Islam terpenting di Mesir. Para ulama Al-Azhar bahkan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Mesir. Pada masa Utsmani, kompleks bangunan Al-Azhar juga mengalami berbagai renovasi dan penambahan. Salah satu tokoh yang terkenal dalam pembangunan Al-Azhar adalah Abd al-Rahman Katkhuda, yang melakukan renovasi besar pada abad ke-18, termasuk pada 1167 H/1754 M. (Mota) Al-Azhar dan Perkembangan Dunia Islam Seiring berjalannya waktu, Al-Azhar tidak lagi hanya menjadi pusat ilmu bagi masyarakat Mesir. Pelajar dari berbagai wilayah dunia Islam datang ke Kairo untuk belajar kepada para ulama Al-Azhar. Mereka kemudian kembali ke daerah asal masing-masing membawa ilmu yang diperoleh selama belajar di Kairo. Inilah salah satu alasan mengapa pengaruh Al-Azhar dapat ditemukan di berbagai wilayah dunia Islam, termasuk Afrika, Asia, Timur Tengah, dan kawasan lainnya. Al-Azhar menjadi salah satu jaringan intelektual Islam yang paling panjang umur dan berpengaruh dalam sejarah. Dari Tradisi Klasik Menuju Lembaga Modern Memasuki era modern, sistem pendidikan Al-Azhar mengalami berbagai perubahan. Tradisi halaqah tetap menjadi bagian penting dari identitasnya, tetapi sistem pendidikan kemudian berkembang dengan struktur kelembagaan yang lebih formal. Al-Azhar akhirnya berkembang menjadi sebuah institusi pendidikan yang memiliki berbagai jenjang dan bidang keilmuan. Meskipun mengalami modernisasi, karakter utama Al-Azhar tetap dipertahankan: pengajaran ilmu-ilmu Islam, bahasa Arab, fikih, tafsir, hadis, dan berbagai disiplin keilmuan lainnya. Saat ini, Al-Azhar dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam Sunni paling berpengaruh di dunia. (Azhar) Arsitektur Al-Azhar yang Kita Lihat Sekarang Bangunan yang dilihat wisatawan hari ini bukanlah bangunan yang sepenuhnya sama dengan Al-Azhar ketika pertama kali dibangun pada abad ke-10. Selama lebih dari seribu tahun, kompleks Al-Azhar mengalami berbagai renovasi, perluasan, dan penambahan bangunan. Bangunan awalnya memiliki halaman terbuka yang dikelilingi oleh tiga sisi serambi. Seiring berjalannya waktu, kompleks tersebut berkembang menjadi jauh lebih besar melalui berbagai tambahan dari masa Fatimiyah, Mamluk, Utsmani, hingga masa modern. (Cairo Governorate) Karena itu, ketika berjalan di dalam kompleks Al-Azhar, wisatawan sebenarnya sedang melihat lapisan sejarah yang berasal dari beberapa periode berbeda dalam sejarah Mesir. Al-Azhar di Masa Kini Hari ini, Masjid Al-Azhar tetap menjadi tempat ibadah sekaligus simbol penting tradisi keilmuan Islam. Masjidnya masih digunakan untuk shalat dan berbagai kegiatan keagamaan, sementara institusi Al-Azhar terus menjalankan fungsi pendidikannya. Al-Azhar juga memiliki kedudukan khusus dalam kehidupan keagamaan Mesir dan dunia Islam. Lembaga ini dikenal luas karena tradisi keilmuan Sunni yang telah berkembang selama berabad-abad. (Azhar) Pada tahun 2018, kompleks masjid juga kembali dibuka setelah proyek restorasi besar yang dilakukan untuk menjaga berbagai bagian bersejarahnya. (Mota) Mengapa Al-Azhar Penting untuk Dikunjungi? Mengunjungi Al-Azhar bukan sekadar melihat sebuah bangunan masjid bersejarah. Di tempat ini, wisatawan dapat melihat bagaimana sejarah Kairo, perkembangan peradaban Islam, tradisi pendidikan, arsitektur Fatimiyah dan Mamluk, serta perjalanan panjang ilmu Islam bertemu dalam satu kawasan. Lebih dari seribu tahun yang lalu, tempat ini dibangun sebagai sebuah masjid di ibu kota baru Dinasti Fatimiyah. Hari ini, Al-Azhar telah menjadi simbol perjalanan panjang ilmu pengetahuan Islam. Dari halaman masjid, halaqah para ulama, hingga para pelajar yang datang dari berbagai penjuru dunia, Al-Azhar memperlihatkan bahwa sejarah sebuah masjid dapat berkembang menjadi sejarah sebuah tradisi keilmuan. Al-Azhar bukan hanya salah satu masjid tertua di Kairo. Ia adalah salah satu saksi hidup perjalanan ilmu Islam selama lebih dari seribu tahun.

Pengiriman BarangBagasi & tarif Ticketing & VisaTiket & VOA Travel Agent / LA EgyptPaket wisata
Contoh panel tema admin
Beginilah Owner mengubah tampilan nanti — semua pilihan sudah diuji keterbacaannya.
Pilih "Foto latar" lalu unggah — teks otomatis dibuat terang agar tetap terbaca.